Stasiun Klimatologi Bali Gelar Sekolah Lapang Iklim Tematik Mendukung LTT di Bali
Denpasar, 9 Desember 2025 – Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Bali, Stasiun Klimatologi Bali bekerjasama dengan BRMP Bali, dan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Provinsi Bali menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) bertempat di ruang meeting BRMP Bali. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Kepala BRMP Bali, Kepala UPTD BPTPHBun Provinsi Bali, Kepala Stasiun Meteorologi Ngurah Rai, Kepala Balai Besar Meteorologi Bali yang diwakili Kepala Tata Usaha, Kepala Balai Stasiun Klimatologi Bali, serta para pekaseh subak dari beberapa kabupaten kota di Bali sebagai peserta.
Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, S.P.,M.Agb. Dalam Arahannya Sunada menyampaikan kegiatan SLI Tematik penting dilakukan mengingat pertanian tidak bisa lebas dari pengaruh iklim. “Karena perubahan iklim yang ekstrim seperti Elnino tahun 2023, kita di Bali pernah kehilangan luas tanam dan luas panen selama satu musim. Karena saat itu kurangnya air hujan akibat badai Elnino. Kurangnya ketersediaan air menyebabkan petani tidak bisa menanam padi” tuturnya.
Lebih lanjut disampaikan ke depan target LTT kita semakin tinggi dan semakin sulit untuk dicapai, karena itu diperlukan strategi yang tepat seperti meningkatkan IP dan meningkatkan produktivitas. Meningkatkan pengetahuan petani tentang iklim ini salah satunya cara yang tepat. “Jadi kehadiran para pekaseh dalam SLI ini sudah sangat tepat, karena pembangunan pertanian di Bali diawali dari subak” ujarnya.
Kepala BRMP Bali Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., dalam sambutannya juga menyambut baik kegitan SLI yang dilaksanakan oleh Stasiun Klimatologi Bali. Kegiatan ini sangat membantu dalam menyusun strategi pencapaian LTT. “Kami berterimakasih atas kepedulian BMKG terhadap pembangunan pertanian di Bali” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Rai Yasa yang juga sebagai pemateri dalam kegiatan SLI Tematik memaparkan permasalahan-permasalahan LTT di Bali; antara lain adanya alih fungsi lahan, kekurangan air akibat kerusakan jaringan irigasi, sampah yang menyumbat jaringan irigasi sehingga air tidak maksimal sampai ke lahan petani, dan lainnya. “Tahun ini kami sudah berupaya mengatasi permasalahan-permasalah tersebut dengan berbagai strategi dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Untuk lahan yang sering mengalami kekurangan air kami upayakan dengan pengembangan padi berumur genjah dan padi toleran kekeringan (padi gogo) serta pompanisasi” ungkapnya.
Pemateri lainnya yaitu, Kepala UPTD BPTPHBun Provinsi Bali, Putu Winaningsih, S.P., M.Agb., menyampaikan matri terkait dampak perubahan iklim terhadap peningkatan serangan OPT pada tanaman. Ia juga menawarkan kepada peserta apabila ada yang ingin mendapatkan agensia hayati, pihaknya siap memfasilitasi.
Selanjutnya pemateri dari BMKG, Siswanto, M.Sc., PhD., menyampaikan Implemetasi Aksi Desa Berketahanan Iklim. Dimana dijelaskan mengenai konsep desa berketahanan iklim dan potensi implementasi program SLI pada komponen masyarakat desa. Yang meliputi Kelompok Tani, Penyuluh Pertanian, PKK, Karang taruna, Posyandu, Lembaga Agama, Kelompok konservasi dan Pemerintahan Desa.
Sebagai penutup kegiatan SLI Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, S.P., M.Si., menyampaikan terimakasihnya kepada BRMP Bali karena telah memfasilitasi kegiatan dengan baik sampai selesai serta kehadiran para pekaseh. “Semoga kegiatan ini mampu menambah pengetahuan para peserta semua. Dengan bertemu seperti ini kita dapat saling bertukar pikiran dan informasi terkait strategi petani dalam menghadapi perubahan iklim sehingga kita bisa berjalan bersama-sama” tutupnya.